Don't miss

Ular Indonesia

By on January 22, 2013

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas 17. 504 pulau. Sebagai negara tropis, pulau-pulau itu merupakan tempat yang cocok dan nyaman bagi kehidupan reptil, terutama ular (serpentes). Kepulauan di Indonesia terletak pada 6 derajat lintang utara (LU) dan 11 derajat lintang selatan (LS) serta 141 derajat bujur barat (BB) dan 95 bujur timur (BT). Letak yang sangat stategis ini merupakan pusat dari aliran arus angin dan arus laut sehingga memiliki keaneka ragaman hayati yang sangat bervariasi. Adanya garis Wallace membagi fauna Indonesia menjadi bercorak utara (Asia) dan bercorak selatan (Australia). Teori benua Gonwana, memisahkan dan menyatukan daerah-daerah yang muncul sekarang. Bahwa Sumatra dahulu merupakan bagian dari benua Amerika tidak diragukan lagi, hal ini dapat dilihat dari adanya tapir yang terdapat di Pulau Sumatra dan di benua Amerika (Amerika Selatan). Ular dari marga Elaphe yang tersebar di benua Amerika dan Asia, menunjukkan bahwa dahulu benua Amerika dan Asia memang menyatu sehingga hewan-hewannya memiliki banyak kesamaan. Ular marga Agkistrodon yang terdapat di benua Amerika juga terdapat di Indonesia. Perkembangan terakhir ular tanah Agkistrodon rhodostoma yang terdapat di Indonesia dipisahkan menjadi marga tersendiri, yaitu menjadi Calloselasma rhodostoma.

Indonesia secara garis besar merupakan tempat yang sangat cocok bagi kehidupan dan perkebangbiakan reptil, terutama ular. Perbedaan suhu yang tidak terlalu besar antara musim penghujan dan musim panas juga merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung kehidupan reptil.

Musim penghujan umumnya turun mulai dari bulan September sampai Februari sedangkan musim panas terjadi pada bulan Maret sampai bulan Agustus. Reptil meletakkan telur-telurnya pada akhir musim panas atau pada awal musim penghujan. Ketika musim penghujan tiba, populasi katak dan burung-burung liar melimpah serhingga anak-anak reptil dapat tumbuh dengan baik dengan memangsa katak dan burung-burung liar itu. Berkaitan dengan musim penghujan, anak-anak tikus pun juga muncul dalam jumlah yang agak besar. Populasi tikus sawah dan mamalia kecil dalam semak-belukar pun umumnya besar ketika musim penghujan tiba. Termasuk populasi ikan-ikan liar juga besar ketika musim penghujan tiba. Semua sumber daya alam ini sangat menguntungkan bagi kehidupan reptil khususnya ular.

Sebagai negeri yang kaya dengan keanekaragaman reptil, Indonesia memiliki berjenis-jenis ular dengan ukuran besar bahkah terbesar di dunia, yaitu ular sanca (Broghammerus reticulatus), dahulu nama ilmiahnya adalah Python reticulatus. Ular ini dapat mencapai panjang lebih dari 11 meter. Ular berukuran besar lainnya adalah Python molurus. Sedangkan ular anang (king kobra) yang bernama ilmiah Ophiophagus hannah, merupakan ular berbisa dengan ukuran paling besar di dunia juga terdapat di Indonesia. Ular ini dapat mencapai panjang lebih dari 5 meter. Ular berbisa berukuran besar ini memiliki banyak variasi warna karena hidup di banyak daerah dan pulau di Indonesia. Ular berbisa ini merupakan raja dari segala ular, karena ular anang memangsa semua jenis ular yang ditemuinya.

Selain jenis-jenis ular berukuran besar di Indonesia pun terdapat beberapa jenis ular dengan ukuran terkecil di dunia seperti ular buta brahmini (Ramphotyphlops braninus). Ukuran ular ini hanya sekitar 8—15 cm. Ular buta ini hidup di dalam selasah dedaunan dan di dalam tanah-tanah gembur dengan memangsa telur serangga dan cacing.

ular buta brahmini (Ramphotyphlos braminus), ular terkecil di dunia

Ular buta brahmini (Ramphotyphlops braninus), merupakan jenis ular dengan ukuran terkecil di dunia terdapat di Indonesia.

Menurut Van Hoesel dalam bukunya yang berjudul “Ophida Javanica” (ular dari Jawa) , di Indonesia terdapat sekitar 400 jenis ular dan anak jenisnya. Kemungkinan besar jenis ini dapat bertambah lagi karena penelitian tentang ular di Indonesia jarang dilakukan.

ular sanca kembang (Broghammerus reticulatus) ular terbesar dan terpanjang di dunia

Ular sanca (Broghammerus reticulatus) merupakan ular terpanjang dan terbesar di dunia, terdapat juga di Indonesia.

Sudah selayaknya penelian lebih mendalan tentang jenis-jenis ular di Indonesia dilakukan lagi karena sudah terlalu lama bila dibandingkan dengan penelitian yang dahulu di lakukan oleh peneliti-peneliti pada sekitar tahun 1900-an. Data tentang ular yang ada hingga kini hanya, studi literatur dengan melihat dan mengecek ulang spesimen-spesimen yang terdapat di dalam koleksi museum saja. Perubahan nama memang terjadi karena klasifikasi modern kini menggunakan DNA sehingga banyak perubahan tetapi penelitian lapangan tetap masih sangat jarang.

Laporan-laporan dalam buletin ilmiah dan media-media ilmiah masih sangat terbatas. Sehingga terjadi jurang informasi yang jauh antara pengetahuan tahun 1900-an dan pengetahuan masa kini, 2000-an. Khusus tentang ular, literatur lama-lah yang banyak terdapat di perpustakaan sehingga perlu segera diperbarui data-nya. Validitas penamaan ilmiah sangatlah penting dan sangat krusial kalau tidak segera dilakukan pembuatan literatur baru dengan nama-nama valid yang berlaku sekarang. Beban literatur sekarang adalah harus tetap mencantumkan sinonim nama ilmiah yang digunakan oleh literatur lama.

Klasifikasi berdasarkan morfologi fisik dengan penghitungan sisik semakin lama menjadi semakin banyak ditinggalkan orang. Walaupun begitu tidak ada salahnya untuk juga mempelajarinya. Klasifikasi dengan DNA-lah yang kian lama menjadi kebutuhan mendasar. Jenis-jenis ular yang sudah lama diternakan dan dibudidayakan memiliki pola dan corak yang sama sekali berbeda dengan bentuk aslinya atau pola warna jenis alamiahnya. Untuk banyak orang, hal ini amat membingunkan. Apalagi kalau jenis-jenis yang telah termodifikasi itu terlepas di alam. Sepintas lalu, amatlah sulit menentukan jenis dari ular yang memiliki perubahan pola warna itu. Walaupun begitu, pembudidayaan ular umumnya masih merupakan seleksi penangkaran (selective breeding) sehingga nama jenisnya masih tetap dan hanya menimbulkan strain-strain baru. Lain halnya apabila beberapa marga ular dikawinkan (hybrid) untuk menghasilkan keturunan baru. Kalau hal ini terjadi semakin sulitlah untuk mengiidentifikasi dan memberi nama ilmiahnya. Sebab masih banyak ahli yang memperdebatkan pemberian nama ‘dometica’ pada hewan-hewan yang nyata-nyata merupakan hasil hibridisasi. Lain halnya kalau hewan ini merupakan hasil dari seleksi penangkaran atau pemuliaan (selective breeding).

Pada ular king kobra (Ophiophagus hannah) dari beberapa tempat di Indonesia memiliki pola sisik dan jumlah yang sangat berlainan dari satu tempat ke tempat lainnya. Penelitian lapangan yang lebih mendalam layak dilakukan untuk ini, apakah memang ada perbedaan genetik tingkat subspesies (anak jenis) atau hanya variasi dalam tingkat ras (strain) atau memang merupakan jenis yang berbeda. Sudah tentu penelitian seperti ini harus dilakukan oleh herpetolog-herpetolog yang handal karena kesalahan sedikit saja dapat berakibat fatal. Penelitian DNA layak dilakukan untuk menerangkan adanya varian-varian ular king kobra agar lebih jelas.

ular anang (Ophiophagus hannah)-02

Ular anang atau ular king kobra (Ophiophagus Hannah), merupakan ular berbisa terbesar di dunia yang memiliki banyak terdapat di Indonesia.

Menurut pendapat penulis, banyak peneliti yang lebih banyak melakukan studi literatur dan studi koleksi museum sehingga penelitian seperti ini miskin akan pengetahuan biologi dan ekologi spesiesnya. Karena yang mereka teliti adalah spesimen-spesimen mati yang terdapat di museum-museum. Yang umumnya specimen itu sudah rusak pola warnanya dan agak berubah (mengecil) sisik-sisiknya. Ke depan penulis mengharapkan adanya penelitian lapangan yang lebih mendalam yang tidak mengabaikan sudut ekologi dan biologinya dan bukan hanya dalam taraf identifikasi melulu.

Terdapat 4 variasi habitat ular di Indonesia, yaitu: a) arboreal (pepohonan), b) aquatik (perairan), c) terestrial (daratan) , dan tipe campuran. Terkadang juga banyak jenis-jenis ular yang memiliki habitat campuran dari ketiga tipe utama habitat ular itu, seperti terestrial-akuatik, terrestrial non-aquatik, dan terestrial-arboreal.

  1. Tipe terestrial (terestrial artinya tanah, senang di daratan), habitat ular dari kelompok ini hidup di dalam lubang-lubang tanah, sembunyi di balik bebatuan, celah-celah kayu di atas permukaan tanah. Umumnya ular dengan habitat seperti ini memiliki sarang di dalam lubang-lubang tanah bebas sarang tikus di daratan, semak belukar dan di sekitar daerah persawahan. Ular masuk ke lubang sarang tikus memakan tikusnya lalu tinggal di dalamnya hingga beberapa lama lalu pindah ke dalam lubang tikus baru.
  2. Tipe arboreal (arboreal artinya pohon, senang dipepohonan), habitat ular dari kelompok ini hidup dengan bergelantungan atau melingkar di antara batang pepohonan, percabangan pohon atau bersembungi pada kerimbunan dedaunan pohon.
  3. Tipe aquatik (aquatik artinya air, senang di air), habitat ular dari kelompok ini hidup di air, dalam lubang-lubang berair dan dalam celah-celah tanah berair, sekitar terumbu karang dan dalam gua-gua berair di sekitar pantai. Hanya sesekali naik ke darat dan hampir seumur hidupnya hidup di sekitar perairan.
  4. Tipe campuran, habitat ular dari kelompok ini hidup berpindah-pindah. Kelompok ular ini terkadang tinggal di pepohonan, kemudian juga turun ke tanah mengejar mangsa. Ada pula yang tinggal dalam lubang tanah tetapi keluar dan masuk ke dalam air untuk mengejar mangsanya berupa ular-ular air dan ikan. Sedang kelompok lainnya, tinggal dan mencari makan di air atau laut kemudian naik untuk beberapa saat selama berkembang biak, lalu masuk lagi le dalam air.
ular sapi (Coelognathus  radiatus)-01, ular tikus di sawah

Ular sapi (Coelognatus radiatus), sering ditemukan di persawahan.

Kelompok ular berdasarkan habitatnya adalah:

  1. Jenis-jenis ular terestial adalah ular kobra jawa (Naja sputatrix), ular sapi (Coelognatus radiatus), ular pelangi (Xenopeltis unicolor), ular viper russell (Daboia russellii). Mereka umumnya ditemukan bersarang di dalam lubang tanah.
  2. Jenis-jenis ular arboreal adalah ular cincin mas (Boiga dendrophila), ular kopi (Gonyosoma oxycephalum), ular pucuk (Ahaetulla prasina), ular tali (Dendrelaphis pictus). Jenis-jenis ini umumnya ditemukan di atas pepohonan.
  3. Jenis-jenis ular aquatic adalah ular kadut belang (Homalopsis buccata), ular kadut pelangi (Enhydris enhydris), ular karung (Acrochordus javanicus), ular lempe (Laticauda colubrina). Jenis-jenis ular ini umumnya ditemukan di sekitar perairan atau di dalam air di sungai, empang, danau atau laut (ular lempe).
  4. Jenis-jenis ular berhabitat tipe campuran adalah:
    a) terestrial-aquatik, seperti ular macan (Xenochrophis melanzostus), ular kadut tembaga (Enhydris plumbea), ular segi tiga merah (Xenochrophis trianguligerus). Jenis-jenis ini tinggal di lubang tanah dan menjelajahi air untuk berburu ikan dan katak.
    b) trestrial non-aquatik, seperti ular buta brahmini (Ramphotyphlops braminus), ular picung (Rhabdophis subminiatus), ular viper russell (Daboia russellii). Jenis-jenis ular ini tinggal di lubang tanah atau dalam tumpukan bebatuan atau selasah dedaunan.
    c) terestrial-arboreal, seperti ular ular sanca batu (Python molurus), ular sanca batik (Broghammerus reticulatus), ular koros (Ptyas korros). Jenis-jenis ular ini tinggal di dalam lubang tanah, di bawah bebatuan dan sering naik ke atas pepohonan.
ular telampar angin (Dendrelapis pictus), senang tinggal di atas pepohonan

Ular telampar angin (Dendrelaphis pictus), senang menjalar di dahan pepohonan.

ular hijau bakau (Gonyosoma oxycephala)-098

Ular hijau bakau (Gonyosoma oxycephalum), umumnya tinggal di pepohonan

ular kadut pelangi (Enhydris enhydris), ular pelangi hidup di dalam air

Ular kadut pelangi (Enhydris enhydris), senang dalam air, atau dalam lubang-lubang di tepian sungai atau empang.

ular kadut tembaga (Enhydris plumbea)-makan ikan lele

Ular kadut timah (Enhydris plumbea), jenis ini tinggal di daratan dan berburu ikan di dalam air.

ular picung (Rhabdophis subminiata)-01

Ular picung (Rhabdophis subminiatus) tinggal di bawah tumpukan bebatuan atau di bawah selasah dedaunan.

ular koros (Ptyas korros), tinggal di darat dan pepohonan

Ular koros (Ptyas korros), senang tinggal di lubang tanah dan pepohonan.

Pengetahuan tentang habitat ular sangat penting untuk peneliti di lapangan, begitu pun tentang perilaku ular di alam. Pengetahuan tentang habitat ular akan mempermudah untuk menemukan ular dalam habitatnya untuk penelitian dan menangkapnya sebagai objek penelitian di lapangan. Pengenalan akan ekologi dan lingkungan ular amatlah penting untuk meneliti fungsi ular di alam secara lebih mendetail. Dan bagi seorang yang penetili yang mahir amatlah mudah menemukan habitat jenis-jenis ular yang akan dicarinya dan hal ini sangatlah sukar bagi orang awam.

   Latar belakang ekologi

Berjenis-jenis ular sangatlah penting peranannya dalam menjaga keseimbangan ekologi di daerah persawahan. Ular sebagai penjaga keseimbangan dari meledaknya populasi tikus sawah amatlah penting. Tanpa keberadaan ular dengan jumlah yang sesuai, maka populasi tikus akan tidak terkontrol dan pada akhirnya akan merugikan tanaman padi petani yang juga akan menyengsarakan masyarakat itu sendiri karena gagal panen akibat serangan hama tikus. Paradigma ini harus dipahami oleh para petani. Tanpa adanya rasa kepedulian terhadap keseimbangan ekologi persawahan, maka petani sendiri-lah yang akan merugi.

Jenis-jenis ular yang sangat efektif dalam menjaga keseimbangan ekologi persawahan dan sangat pandai menekan populasi tikus adalah: ular sanca batik, ular sanca batu, ular sapi, ular koros, ular sanca darah, ular kopi, dan ular jali serta ular kobra. Jenis-jenis ular ini sangat senang memangsa tikus sawah (Rattus argentiventer, Rattus diardi, Ratus rattus) dan juga mencit (Mus musculus). Selain itu penangkapan katak (Fejervarya spp. dan Rana spp.) dari areal persawahan juga merupakan tindakan yang merusak. Banyak jenis-jenis serangga yang seharusnya dimakan oleh katak menjadi tumbuh membesar dan menjadi ledakan populasi yang sangat mengganggu dan berpotensi besar menggagalkan hasil panen petani.

Selamanya ketidak seimbangan ekologi akan mengakibatkan bencana, di daerah persawahan ketidak seimbangan ini akan mengakibatkan gagalnya panen petani. Jika hal ini terus menerus terjadi akibatnya bencana kelaparan akan meruak dan kerusuhan massal akan timbul yang berakibat merugikan semua pihak.

Ular terutama yang berbisa sebenarnya merupakan sumber obat, baik sebagai bahan pembuat serum anti bisa ular dan bahan obat untuk manusia. Hormon dan enzim yang terdapat di dalam bisa ular dapat diisolasi dan digunakan sebagai untuk kepentingan pengobatan penyakit. Obat-obatan modern juga telah dibuat dengan bahan dasar bisa ular. Contohnya, Arvin, obat ini digunakan untuk mengatasi kerusakan peledaran darah dan melancarkan peledaran darah. Obat ini dibuat dari bisa ular viper yang bersifat hemotoksin.

Biologi ular

Ular adalah reptil yang dapat bergerak cepat walaupun tanpa kaki. Ular memiliki sisik-sisik besar di bagian perutnya yang membantunya bergerak dengan cepat tanpa terlihat. Umumnya tubuh ular ramping dan silindris sehingga memudahkannya meliuk dan meluncur dengan cepat. Ular memangsa ikan, mamalia kecil dan besar, burung dan telurnya, kadal, katak, cicak, larva seranga, dan ular dari jenis lainnya. Beberapa jenis ular, seperti ular king kobra dan ular welang senang memangsa ular dari jenis lainnya. Dengan bantuan belitan tubuhnya ular membunuh mangsanya dan menelannya setelah mati lemas, untuk ular berbisa mangsanya dibunuh dengan bantuan bisa sehingga mati lalu ular menelannya. Bisa membantu proses menguraian tubuh mangsanya agar mudah dicerna. Selain itu enzim pencernaan dan asam HCl yang kuat di dalam perut ular ikut serta membantu proses pencernaannya. Ular memang memiliki gigi tetapi giginya tidak digunakan untuk mengunyah mangsanya tetapi digunakan untuk menangkap dan memegang mangsanya agar tidak lari serta untuk mengalirkan bisa pada jenis ular berbisa. Beberapa jenis ular setelah memangsa mangsanya yang berukuran besar membutuhkan beberapa waktu untuk mencerna mangsanya itu. Ular pemangsa besar tidak mencari makan setiap hari. Tetapi setelah mangsanya habis tercerna dan dirasa lapar baru ular keluar mencari mangsa baru. Ular keluar mencari mangsa ada yang dilakukan pada malam hari (nokturnal) dan ada pula yang dilakukan pada siang hari (diurnal). Ular bernapas dengan menggunakan paru-paru dan berkembang biak dengan bertelur atau bertelur beranak. Bertelur beranak artinya telur dierami di dalam rahim ular setelah tua lalu menetas dan dikeluarkan dari kloaca ular. Ular yang bertelur beranak tidak memiliki plasenta atau tembuni. Sebelum bertelur ular umunya mengadakan kopulasi dahulu kemudian bunting dan mengeluarkan telurnya. Telur disimpan dalam sarang tanah diemai atau hanya ditaruh dalam lubang tanah. Diperlukan sekitar 70—90 hari untuk telur ular menetas. Musuh ular adalah ular jenis pemangsa lainnya, burung elang, burung hantu, garangan, biawak, buaya, ikan buas dan yang paling merusak adalah manusia sendiri. Ular di dalam kandang dapat mencapai umur sekitar 25 tahun. Di alam, umur ular biasanya lebih pendek karena banyak musuhnya. Ular juga terkena penyakit seperti kutu, jamur, cacing, dan infeksi bakteri yang sering mengakibatkan berumur pendek.

Bisa ular

Di Indonesia, tidak terlalu banyak ular berbisa paling banyak hanya sekitar 5 persen saja dari seluruh populasi ular. Sehingga untuk bertemu dengan ular berbisa sangatlah kecil. Bisa bagi ular adalah alat untuk membantu mencerna dan menangkap mangsanya. Kelenjar bisa adalah modifikasi dan perkembangan dari kelenjar ludah yang terdapat pada ular. Bisa terdiri atas enzim, asam-asam amino,dan racun. Racun pada bisa ular ada yang bekerja untuk membunuh atau menggagalkan kerja paru-paru dan jantung dengan merusakkan jaringan syaraf mangsanya yang disebut bisa nerotoksin dan bisa yang berkerja merusakkan jaringan darah mangsanya yang disebut hemotoksin. Bagi ular bisa juga membantu melunakkan dan menghancurkan jaringan darah dan saraf mangsanya agar mudah dicerna. Tanpa bisa proses pencernaan ular berbisa menjadi sangat lambat. Oleh karena itu, ular berbisa umumnya jika mematuk manusia tidak mengeluarkan dosis bisa yang besar kecuali bila ular berbisa itu sudah diprovokasi dengan amat sangat sehingga ia sangat marah dan menggigit dengan dosis bisa yang tinggi. Pengobatan akibat terpatuk ular berbisa yang paling ampuh dengan menggunakan  serum anti-bisa ular. Pengobatan modern membuat serum antibisa ular monovalen yang  hanya untuk mengobati satu jenis bisa dan serum polivalen yang dapat digunakan untuk mengobati bermacam-macam bisa dari beberapa jenis ular berbisa.

Ular berbisa

Ular berbisa adalah ular yang memiliki bisa sehingga akibat gigitannya dapat membahayakan manusia dan hewan. Kriteria ular berbisa, yaitu: a)  memiliki bisa yang dapat membunuh hewan dan manusia, b) memiliki taring bisa, baik di  depan (proteroglypha) maupun di belakang (ophistoglypha) atau ) c memiliki taring bisa berliang (solenoglypha). Sehingga setiap  ular berbisa harus  memiliki taring bisa dan memiliki bisa yang dapat mematikan (uji bisa),  sebab ada ular yang memiliki taring bisa tetapi bisanya lemah atau bisanya tidak dapat membunuh manusia dan hewan atau bahkan tidak memiliki bisa. Pendapat awam yang mengatakan ular berbisa memiliki bentuk kepala segitiga, berkulit mengkilat atau berjalan lambat tidak selalunya benar bahkan dapat menyesatkan. Sebab banyak ular berkepala tumbul yang memiliki bisa, dan banyak ular berkulit mengkilat yang tidak berbisa serta banyak ular yang berjalan cepat adalah ular yang berbisa. Paradigma lama ini harus diubah.

Klasifikasi pemanaan jenis yang umum digunakan adalah

Kerajaan    Animalia (kerajaan hewan)
Filum    Chordata (memiliki tulang belakang)
Sub-filum    Vertebrata (bertulang belakang)
Kelas    Retilia (hewan merayap)
Bangsa    Squamata (bersisik)
Anak bangsa    Serpentes (Ophidia) = (ular)
Suku    Elapidae (ular elapid)
Marga    Naja (ular sendok)
Epitet    sputatrix
Jenis    Naja sputatrix
Author    F. Boie, 1827
Nama valid    Naja sputatrix BOIE, 1827

Penulisan nama ilmiah lengkap dari  ular sendok (Naja sputatrix  BOIE, 1827). F. BOIE  adalah author (Inggris:  author species) jenis yang pertama kali memaparkan atau mempertelakan jenis ular ini kepada dunia lewat bulletin ilmiah atau majalah ilmiah (seperti Treubia dll.)  atau orang yang paling tepat memberikan laporan ilmiah tentang ular ini.  Dan melalui, konsensus ahli-ahli biologi sedunia (dalam simposium atau rapat ilmiah tingkat dunia lainnya), berdasarkan rincian laporan ilmiahnya itu, maka F. BOIE ditetapkan sebagai author nama jenis untuk ular ini.

ular sendok (Naja sputatrix)-09

Ular kobra jawa (Naja sputatrix Boie, 1827).

Suku-suku Ular di Indonesia:

  1. Cylindrophiidae (suku ular kepala dua)
  2. Anomochilidae (suku ular primitive)
  3. Xenopeltidae (suku ular pelangi)
  4. Typhlophidae (suku ular buta)
  5. Boidae (suku ular boa)
  6. Pythonidae (suku ular sanca)
  7. Colubridae (suku ular koros)
  8. Acrochordidae (suku ular karung)
  9. Homalopsidae (suku ular kadut)
  10. Elapidae (suku ular kobra)
  11. Viperidae (suku ular viper)

Keterangan singkat suku ular di Indonesia

1)      Suku Cylindrophiidae atau suku ular kepala dua.Suku ini terdiri atas 10 jenis ular. Di Indonesia suku ini hanya memiliki satu marga saja, yaitu marga Cylindrophis. Contohnya ular kepala dua Cylindrohis ruffus (rufus ?). Jenis ini bertelur beranak (ovovivipar) dan tidak berbisa.

ular kepala dua (Cylindrophis rufus)-00sd

Ular kepala dua (Cylindrophis ruffus). Epitet nama ular ini adalah ruffus yang secara vokabulari dalam bahasa Latin seharusnya rufus. Penulis masih terus menelusuri kenapa hal ini terus terjadi. Karena banyak peneliti tidak mengerti bahasa Latin.

2)       Suku Anomochilidae , suku ular pipa kerdil. Di Indonesia, suku ini hanya terdiri atas 3 jenis. Jenisnya Anomochilus weberi, A. montocola dan A. leonardi. Jenis-jenis tidak berbisa.

3)      Suku Xenopeltidae , suku ular pelangi. Suku ini di Indonesia hanya memiliki satu jenis saja, yaitu ular pelangi (Xenopeltis unicolor). Ukuran ular 70—100 cm dan tidak berbisa.

ular pelangi (Xenopeltis unicolor), sisik-sisiknya mengkilat mirip warna pelangi

Ular pelangi (Xenopeltis unicolor), sisik ular ini memantulkan sinar matahari sehingga mengeluarkan warna mirip pelangi.

ular pelangi (Xenopeltis unicolor), sisik  berkilat seperti warna pelangi

Ular pelangi (Xenopeltis unicolor), ular tidak berbisa yang jarang menggigit

4)      Suku Typhlophidae, suku ular buta, suku ini terdiri atas 3 marga dengan 166 jenis. Di Indonesia suku ini diwakili oleh 34 jenis. Dan satu jenis yang sangat terkenal di Indonesia adalah ular buta brahmini atau Ramphotyphlops braminus. Ukurannya hanya 8—15 cm. Hidup di dalam tanah atau selasah dedaunan yang telah lapuk dan memangsa pupa serangga. Jenis ini bertelur beranak. Jenis ini merupakan ular terkecil di dunia.

ular buta brahmini (Ramphotyphlos braminus), ular terkecil di dunia, panjangmnya hanya sekitar 10 cm saja.

ular buta brahmini (Ramphotyphlops braminus), merupakan ular terkecil di dunia.

5)      Suku Boidae atau suku ular boa, suku ini terdiri atas 20 marga. Di Indonesia terdiri atas 5 marga, yaitu: Bothrochilus, Morelia, Candoia (Enygrus), Liasis dan Chondropython.

ular sanca hijau (Morelia viridis)-093

Ular sanca hijau (Morelia viridis), berasal dari Indonesia bagian timur.

6)      Suku Pythonidae, suku ular sanca. Suku ini terdiri atas dua marga, yaitu Broghammerus dan Python. Satu jenis yang merupakan ular paling besar dan paling panjang di dunia, yaitu ular sanca kembang atau sanca batik (Broghammerus reticulatus).

ular sanca kembang (Brogrammerus reticulatus)-067

Ular sanca batik (Broghammerus reticulatus), merupakan ular yang paling banyak penggemarnya.

7)      Suku Colubridae atau suku ular tikus. Di Indonesia suku ini terdiri atas 240 jenis yang termasuk dalam 41 marga. Satu jenis yang paling terkenal adalan ular sapi (Coelognatus radiatus) dan ular picung (Rhabdophis subminiatus).

ular sapi (Coelognathus radiatus)-02, pemakan tikus yang handal

Ular sapi (Coelognatus radiatus), jenis ular ini pemangsa tikus yang baik.

ular picung (Rhabdophis subminiatus), bisanya berbahaya bagi orang bergolongan darah O.

Ular picung (Rhabdophis subminiatus).

8)      Suku Acrochordidae atau suku ular karung. Suku ini hanya terdiri atas 2 marga, yaitu Acrochordidae. Suku ini di Indonesia terdiri atas 3 jenis ular. Jenis-jenis merupakan ular yang hidup di daerah pesisir. Satu jenis yang paling terkenal adalah ular karung (Acrochordus javanicus).

ular karung (Acrochordus javanicus)-098

Ular karung (Acrochordus javanicus), hidup di daerah pesisir.

9)      Suku Homalopsidae suku ular air suku ini terdiri atas satu marga, yaitu Homalopsis, Enhydris, Cerberus dan lain-lain. Satu jenisnya yang terkenal yaitu ular kadut belang (Homalopsis buccata).

10)      Suku Elapidae atau suku ular kobra. Suku ini terdiri atas 83 jenis ular. Beberapa jenisnya merupakan ular berbisa yang sangat terkenal seperti ular kobra (Naja sputatrix) dan ular king kobra (Ophiophagus hannah). Dan semua jenis ular laut (anak suku Hydrophiinae) sekarang masuk dalam suku ini. Suku ini terdiri atas sekitar 20–24 marga ular. Semua jenisnya memiliki tipe gigi bersaluran dan letaknya di depan (proteroglypha). Golongan bisa suku ini adalah neurotoksin. Di Indonesia terdapat 46 jenis ular laut yang semuanya dimasukkan dalam suku ini.

ular anang (Ophiophagus hannah)-09sdfd

Ular king kobra (Ophiophagus hannah), merupakan jenis ular berbisa berukuran besar.

11)      Suku Viperidae, atau suku ular viper. Suku ini di Indonesia terdiri atas 15 jenis dengan 7 marga. Di seluruh dunia suku ini memiliki sekitar 40 jenis ular dalam 10 marga. Semua jenisnya memiliki bisa bergolongan neurotoksin. Tipe gigi bisanya berliang (solenoglypha). Satu jenis yang paling terkenal di Jawa Barat adalah ular tanah (Calloselasma rhodostoma) yang sering menyebabkan korban jiwa. Satu jenis lainnya yang agak jinak adalah ular cinta mani (Tropidolaemus wagleri). Walaupun perangainya agak jinak tetapi bisanya cukup berbahaya. Ular-ular dari suku ini umumnya memangsa burung, katak dan tikus.

ular tanah (Calloselasma rhodostoma)-09kdgf

Ular tanah (Calloselasma rhodostoma), patukannya sering menyebabkan kematian.

ular cinta mani (Tropidolaemus wagleri)-01, salah satu jenis ular viper

Ular cinta mani (Tropidolaemus wagleri), berperilaku agak jinak.

————————————–

Penulis: Budi Suhono

Note: to need further research and fund support.

Daftar Pustaka

Bellaris dan Carrington. 1966. The World of Reptiles. London: Chatto and Windus Ltd.

Berhard, Sidney. 1968. The Structure and Fungtion of Enzymes. New York: Benjamin Co.

Bucherl, W dan Buckley, Eleanor E. 1968. Venomous Animals and Their Venoms. New York: Academic Press, vol 1.

————-.1968. Venomous Animals and Their Venoms. New York: Academic Press, vol 1I/III.

Brongerma, L.D.. 1958. Note on Vipera Russellii (Shaw). Leiden: Zoolgogische Mededeling, deel 36, No. 4.

De Haas, C.P.J.. 1950. Checklist of the Snakes of Indo-Australia Archipelago. Bogor: Archipel Drukkerij, dari Treubia, vol. 3, No. 3, p. 511—625.

Fowler, Murray E,. 1979. Restrain and handeling of Wild and Domestic Animals. Iowa State University Press.

Lim Leong Keng, Francis. 1991. Tales and Scales. Singaoure: Graham Bush Pte Ltd.

Goin and Goin. 1970. Introduction to Herpetology. Dan Fransisco: W.H Freemen and Company.

Gow, Graem F.. 1982. Australia Dangerous Snakes. Australia: Angys & Robertson Publisher.

Kawamura, Chinzei dan Sawai. 1975. Snakebites in Indonesia. Majalah The Snakes, vol. 7. P. 73-78.

Kopstein, F.. 1932. Bungarus javanicus, eine neue Giftschlange von Java (Herpetologische Notizen), Treubia, vol. 14, p. 73—77

Laporan. 1981. International Seminar on Epidemiology and Medical Treatment of Snakebites. The Snake, vol. 13. p. 63—67.

Lim Bo Liat. 1981. Ular-ular Berbisa di Semenanjung Malaysia. Kuala Lumpur: Art Printing Works.

Neuhaus, H.. 1935. Vipera russellii limitis (Merten) dalam Treubia, vol. 15.

Phelps, Tiny. 1981. Poisonous Snakes. London: Blandfort Press Ltd.

Rogercaras. 1974. Venomous Animals of the World. USA: Prentice-Hall International Inc.

Shine, Richard. 1991. Australian Snakes a Natural History. Sydney, Australia: Reed Book Pty Ltd.

Suhono, Budhy. 1984. Mengenal Ular Berbisa. Jakarta: Berita Buana, 20 Agustus.

—————. 1985. Mengenal Ular Berbisa. Jakarta: Majalan Zaman No. 19/ VI /2 Februari.

—————. 1985. Mengidentifikasi Ular Berbisa. Jakarta: Berita Buana, 13 Juni.

—————. 1985. Memberantas Hama Tikus secara Kontrol Biologi. Jakarta: Berita Buana, 6 September.

————–. 1986. Ular Tanpa Bisa Tidak Berarti Apa-apa. Jakarta: Majalah Warnasari, No 84/ VII.

————–.1986. Ularmu Bung. Jakarta: Majalah Aku Tahu, No, 36/ III / Februari.

Storr dan L. A. Smith, serta R. E. Johmstone, G, M.. 1986. Snakes of Western Australia. Perth, Australia: The Western Australian Museum.

Supriatna, Jatna. 1981. Ular Berbisa Indonesia. Jakarta: Bhatara karya Aksara.

Tweedie, M.W.F.. 1954. The Snakes of Malaya. Singapure: Government Printing.

Van Hoesel, J. K. P.. 1959. Ophidia Javanica. Bogor: Percetakan Archipel.

Wall, Capt. F. I. M. S.. 1902. Aids to the Differentiation of Snake. Bombay: Journal Bombay Natural History Society, vol. 14. P. 337.

Wolf dan Eberhard Engelmann. 1981. Snakes, Biology, Behavior and Relationship to Man. Fritz Jurgen Obst.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>