Don't miss

Ular Kobra Jawa

By on July 17, 2013
sisik kepala kobra jawa

sisik kepala ular kobra jawa

Ular Kobra Jawa.   Adalah ular berbisa yang terdapat di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Kenapa dinamakan ular kobra jawa? Hal ini  tidak lain karena jenis ular ini pertama kali diteliti dan ditangkap dari Pulau Jawa sehingga dinamakan ular kobra jawa. Seorang peneliti bangsa Jerman yang bernama Friedrich   Boie (4 Juni 1789—3 Maret 1870), meneliti dan memberi nama ular kobra yang diambil dari Pulau Jawa ini ia beri nama Naja sputatrix. Hal ini berdasarkan specimen pertama yang ditelitinya yang berasal dari Jawa.  Secara ilmiah jenis ular ini dituliskan menjadi  Naja sputatrix  BOIE, 1827.

Alasan  Friedrich Boie memberi nama ular ini dengan epitet sputatrix  (specific nama) karena ular kobra sering meludahkan atau menyemprotkan bisa yang bercampur ludah ketika didekati atau ketika diteliti. Epitet sputatrix berasal dari kata kerja sputare yang berarti meludah.  Ular kobra jawa termasuk dalam suku Elapidae.  Kemudian penelitian, ia teruskan dan ternyata ular kobra jawa ini juga terdapat di Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau  Flores, Pulau Alor dan sampai juga Sulawesi.

Etimologi. Secara etimologi marga Naja berasal dari kata naga  (Bahasa Urdu, India), yaitu sebutan untuk ular yang lehernya dapat dikembangkan, yaitu kobra. Kemudian kata naga ini dilatinkan oleh penelitinya, yaitu Laurenti, 1768 menjadi Naja. Marga Naja ini sekarang terdiri atas 25—28 jenis ular yang tersebar di Afrika dan Asia.  Sedangkan sebutan kobra atau cobra berasal dari bahasa Ingris. Dan bahasa Inggris memungut kata itu dari bahasa Latin coluber  yang berarti ular.

Taksonomi. Pada awalnya pemerian jenis-jenis kobra dan anak-anak jenisnya pertama kali dituliskan oleh C. P. J.  De Haas dalam majalah Treubia Volume 20, bagian 3 halaman 511—625 tahun 1959. De Haas menuliskan dalam  sebuah checklist of the snakes of the Indo-Australian Archipelago. De Haas mengatakan di Indonesia hanya terdiri atas 3 jenis kobra, yaitu: 1)  Naja celebensis, 2) Naja hannah  dan 3) Naja naja.  Kemudian  jenis Naja naja memiliki  6 anak jenis, yaitu: Naja naja caeca, Naja naja leu

ular kobra jawa albino

ular kobra jawa albino

codira, Naja naja miolepis, Naja naja paucisquamis, Naja naja sputatrix, Naja naja sumatrana. Pada saat ini morfologi dan perhitungan sisik merupakan kriterian untuk menentukan jenis-jenis ular kobra ini.    Tetapi kemudian karena ular kobra yang bernama Naja hannah memiliki sisik parietal yang besar-besar dan sangat berbeda dengan jenis kobra lainnya, maka jenis Naja hannah dikeluarkan dari marga Naja menjadi marga tersendiri, yaitu marga Ophiophagus sehingga menjadi Ophiophagus hannah dan dikenal sebagai ular king kobra atau kobra raja atau ular anang.

kobra sumatra (Naja sumatrana) (3)

ular kobra sumatra (Naja sumatrana)

kobra sumatra (Naja sumatrana) (1)

ular kobra sumatra (Naja sumatrana)

kobra sumatra (Naja sumatrana) (2)

ular kobra sumatra (Naja sumatrana)

Setelah tahun 1980, biologi molukuler kian berkembang dan penelitian dengan DNA mulai marak sehingga takosonomi tentang ular kobra di Indonesia menjadi berubah. Seorang peneliti herpetologi bangsa Inggris yang bernama Tony Phleps dalam buku memerikan bahwa di Indonesia terdapat 2  jenis kobra, yaitu Naja sputatrix  (Jawa, Bali, Lombok, Flores, Komodo dan Sulawesi), dan Naja naja dengan dua  anak  jenisnya, yaitu  Naja naja miolepis (Kalimantan),  Naja naja sumatrana  (Sumatra).

Kini berdasarkan penelitian DNA yang diambil dari  reptile database memerinci di Indonesia hanya ada 2 jenis ular kobra, yaitu  kobra jawa (Naja sputatrix) dan  kobra sumatra  (Naja sumatrana). Walaupun hasil test DNA-nya masih harus diteliti lagi apakah sudah memenuhi semua specimen  yang terdapat di pulau-pulau yang terdapat di Indonesia.

Pandangan masyarakat. Masyarakat  mengenal ular kobra jawa sebagai ular berbisa yang akibat patukannya dapat mengakibatkan kematian. Para petani di Pulau Jawa, baik di Jawa Barat maupun di Jawa Timur, sering menemui ular ini sewaktu berada di sawah mereka, terutama pada saat panen atau sedang membersi

hkan rumput di sawah (matun). Kadang–kadang juga ular ini bersembunyi pada tumpukan jerami, mungkin untuk mencari makan. Terkadang juga ular ini masuk ke dalam rumah karena memburu tikus atau sekedar mencari tempat berlindung yang hangat. Umumnya ular kobra akan lari menghindar jika bertemu dengan manusia.

Morfologi. Ular kobra jawa dapat menjadi agresif  jika diganggu atau dipermainkan. Ular ini sangat khas dikenal di seluruh dunia karena sangat menarik dan mengagumkan karena dia dapat melebarkan sebagian tulang-rulang rusuk di daerah lehernya. Ular kobra dapat melebarkan leher kira- kira 10 cm dari daerah kepala. Ukuran ini dapat lebih panjang atau lebih pendek tergantung pada ukuran ular. Bagian yang

melebar ini dikenal dengan sebutan hood (Ingris), dan jebebek (Cirebon). Jebebek pada ular kobra disebabkan oleh adanya tulang rusuk (sebagian) yang memanjang pada bagian leher. Jika ular ini marah karena terusik, maka ia akan melebarkan bagian ini sambil mengangkat kepala tinggi-tinggi kemudian mengeluarkan suara mendesis terputus-putus secara terus-menerus. Jika pengusiknya tidak pergi, maka  ular ini akan mendesis hingga berjam-jam. Desisannya baru berhenti jika penyebab kemarahannya sudah tidak ada atau ular  merasa tidak terusik atau terganggu lagi.

Ular kobra jawa ada yang berwarna hitam legam, agak kelabu, dan ada pula yang cokelat tua serta cokelat muda. Perlu dicatat bahwa ada ular kobra dari daerah Kedu sampai Yogyakarta yang berwarna kuning pada bagian  ventral sampai hood (leher yang berkembang), bahkan ada yang sampai pada bagian posterior ventral yang berseling-seling

Ular kobra dari daerah Cirebon dan Banten kebanyakan berwarna hitam kebiru-biruan, bahkan kadang-kadang ditemukan beberapa ular kobra yang albino. Ular kobra yang albino ini dalam dunia pewayangan atau bagi orang-orang penyayang binatang berbisa bernilai tinggi karena harganya pun mencapai 20 kali lipat dari harga ular kobra biasa.

Sisik ular kobra hampir sama dengan kulit salak. Sisik-sisik tidak berlunas dan teratur rapi. Kulitnya pun sangat baik untuk industri kerajinan kulit.

Ular kobra jawa yang besar dapat mencapai 1,7 m. Tetapi ukuran panjang rata-rata yang sering ditemukan penulis selama berburu adalah 1,2   m.

Dahulu king kobra bernama Naja hannah sekarang menjadi Ophiophagus hannah

Dahulu ular king kobra bernama Naja hannah sekarang menjadi Ophiophagus hannah

Ukuran ular kobra betina ternyata lebih besar dan lebih panjang daripada yang jantan. Diamater badan ular kobra yang besar dapat mencapai 20 cm dan berat badan 2,5 kg. Kebanyakan tubuh ular yang begitu gemuk terdiri atas lapisan lemak yang tebal.

Ular kobra jawa  berkepala tumpul dan tebal, begitu pula dengan ular kobra. Pada kepala terdapat sepasang mata yang besar dengan pupil bulat dan berwarna gelap.

Gigi ular kobra jawa kecil-kecil dengan dua buah taring bisa yang tidak terlalu besar. Taring bisa ular kobra terletak kukuh di bagian rahang atas bagian depan dalam posisi yang agak condong ke dalam lubang mulut.

Taring bisa ular kobra kira-kira berukuran 0,7—0,9 cm. Gigi ini terbungkus oleh selaput taring bisa yang tebal. Taring bisa ular kobra beralur dan melalui celah alur inilah bisa disuntikkan ke dalam tubuh mangsa. Gigi bisa ini tergolong tipe proteroglipha (taring bisa di depan).

Kelenjar bisa terletak pada pangkal rahang, tepatnya pada bagian suprabial ke-4 sampai ke-7. Bila kulit di bagian tepat di bagian ini dibedah, kita dapat melihat bentuk kelenjar. Kelenjar bisa ini berwarna putih, bersaluran serta berhubungan dengan pangkal taring bisa. Cairan bisa disalurkan ke pangkal taring bisa untuk disuntikkan ke tubuh mangsa sewaktu mematuk.

Pada sekeliling kelenjar bisa terdapat suatu otot yang bekerja menekan kelenjar bisa bila diperlukan. Otot ini bernama musculus venomenous. Mekanisme kerjanya sangat baik, yakni prinsip kerja yang sama dengan alat suntik yang biasa digunakan oleh dokter.

Persisikan. Sisik ular kobra  jawa tidak berlunas dengan bentuk lonjong dan timbul m

irip kulit salak. Sisik di sekelilig  tubuhnya bagian tengah berjumlah 17—21 baris. Ventral 163—200 sisik. Sisik anal tunggal. Sisik subcaudalnya berjumlah 42—75 dan berpasangan.

Perilaku. Ular kobra  jawa sebenarnya penakut dan tidak agresif seperti apa yang

dipikirkan orang banyak. Ular ini baru  menyerang dan garang jika terancam atau terusik. Di alam bebas, ular ini selalu memilih melarikan diri jika bertemu dengan manusia.  Dan jarang sekali ular kobra berani menghadapi manusia secara terang-terangan. Ular kobra tidak terlalu garang setelah ditangkap. Jika dipegang dengan perlahan-lahan dan hati-hati, ia tidak akan mematuk. Lain halnya jika dipegang keras-keras dan disakiti.

ular kobra jawa

Ular kobra jawa jarang dengan sungguh-sungguh menggigit. Ia menyemburkan bisa terlebih dahulu sebelum mematuk. Ia jarang mematuk langsung. Jika dimasukkan hewan mangsa kedalam kandangnya, ia tidak akan mematuk jika si mangsa tidak bergerak atau bertingkah laku yang menakutkan sang ular. Bila menyerang ia hanya menyemburkan bisa. Ia baru mematuk bila benar-benar terpaksa.

Tidaklah mengherankan jika ada orang yang berani masuk ke dalam kandang ular kobra tanpa terpatuk selama berbulan-bulan.

Kriteria galaknya ular adalah marah serta mendesis terus-menerus dan tidak mau menjauhi pengusiknya. Ia baru akan diam bila pengusiknya menjauh. Jika pengusik ada dalam radius patukannya, ia akan langsung mematuk. Bila ular yang galak ini kita usir dari jalannya pun, ia tetap melebarkan leher dan mengangkat kepala. Ia

tampak gagah dan angkuh.

Ular kobra jawa aktif pada sore dan magrib,  sekitar pukul 16.00—18.30 ular ini sangat aktif mencari mangsa. Ular kobra dalam kurungan sering makan pada sore hari walaupun mangsa itu sudah diberikan pada pagi hari.

Ular ini sering tampak  melata di antara semak-semak dan pematang pada sore hari di sekitar kebun dan sawah.

Ular kobra jawa tidak dapat mendengar (tuli). Ia “menden

gar”  hanya sebagai getaran (vibrasi). Telinga ular sudah tereduksi sehingga tidak berfungsi dengan baik.

Ular kobra tampak menari-nari dihadapan pawang ular di India. Ia bergoyang-goyang mengikuti gerakan tangan atau seruling labu si pawang, bukan menari karena tertarik akan suara merdu seruling si pawang. Jadi, sebenarnya goyangan si ular itu merupakan ancang-ancang untuk mematuk.

Ular kobra jawa adalah ular yang pandai,  di kandangnya ia sering mencoba meludahkan bisa melalui celah-celah lubang yang terdapat pada kurungannya, seolah-olah tahu bahwa meludahkan bisa melalui celah dapat lebih mengena daripada meludahkannya pada kaca penutupnya.

Ular kobra jantan lebih galak daripada yang betina. Hampir semua ular yang bertabiat galak adalah jantan.

Pakan. Ular kobra  jawa makan tikus, katak, burung, telur burung, ular, dan mamalia kecil. Mangsa dilumpuhkan terlebih dahulu dengan bisa, kemudian ditelan dari bagian kepala. Ular kobra adalah pemburu tikus sawah yang ulung. Pernah ditemukan 7 ekor anak tikus sawah dalam perut ular kobra,  setelah dibedah untuk mengetahui apa makanan favorit ular ini. Berarti dalam sekali makan, ular kobra dapat menghabiskan 1 keluarga ular sawah. Ular kobra berfungsi  sebagai kontrol biologis terhadap hama tikus di sawah. Ular kobra mengejar tikus sawah sampai ke sarangnya, memangsa semua tikus di lubangnya dan tinggal di lubang itu sampai ia lapar kemb

ali. Kalau kita ingin menemukan ular kobra, galilah sarang tikus dan hampir pasti ular kobra dapat ditemukan. Untuk menemukan sarang tikus yang berisikan ular kobra, diperlukan keahlian tersendiri. Para pawang dan pemburu ular tahu benar lubang mana yang ada ularnya.

 

ular kobra jawaBerkembang biak. Ular kobra jawa  melakukan perkawinan pada bulan Agustus—Sept

ember atau akhir musim panas dan telur menetas pada awal musim hujan. Bersamaan dengan tumbuhnya padi yang sudah tinggi, ular kobra su

lit ditemui. Kebanyakan ular kobra berdiam di tengah sawah untuk menetaskan telur. Pada masa panen, ketika padi sudah dipotong, ular kobra banyak ditemui di lubang-lubang di tepi sawah.

Hal ini sesuai dengan pergerakan tikus. Tikus banyak bersarang di tengah sawah ketika padi sedang berbuah dan pindah ke lubang-lubang di tepi sawah ketika padi sudah dipotong atau di panen. Ular kobra sangat gemar akan tikus. Oleh karena itu, musim kawinnya pun banyak bersamaan dengan pergerakan populasi tikus.

Ular kobra jawa  mengerami telur sampai menetas di lubang-lubang tikus.

Ular kobra yang besar dapat menghasilkan 20–40 butir

telur dan yang lebih kecil menghasilkan lebih sedikit.

Telur ular kobra menetas sesudah 60—70 hari. Masa mengeram dapat pula terpengaruh oleh musim (temperatur lingkungan) pada saat telur dikeluarkan. Telur ular kobra berbentuk bulat memanjang seperti telur burung puyuh. Ukurannya pun kurang lebih sama, namun berbeda karena berwarna putih. Telur-telur berlekatan satu sama lainnya, tidak berkulit keras tetapi lembek seperti terbuat dari kertas.

Anak ular kobra  jawa yang baru menetas berukuran rata-rata 23

cm dan sudah dapat melebarkan leher bila marah. Anak ular kobra giat bergerak ke sana ke mari dan kerap kali mengejar katak kecil. yang sangat menarik adalah gigi anak ular kobra yang baru menetas sudah cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan evolusi pada taring bisa ular kobra sangat baik.

Ular kobra jawa mengadakan kopulasi dalam populasi miring.

Yang jantan memiliki penis yang bercabang dua (hemipenis). Ular kobra kebal terhadap gigitan ular kobra sejenisnya.

kobra jawa albino sedang makan anak ayam

ular kobra jawa albino juga senang makan anak ayam

Bisa. Secara umum bisa ular kobra digolongkan sebagai berbisa neurotoksin, yaitu golongan bisa yang bekerja merusak susunan dan mekanisme saraf korban. Korban patukan ular kobra mati karena kerusakan saraf-saraf pernafasannya sehingga sulit bernapas. Bisa kobra selain berisi racun saraf terdapat juga racun jantung, perusak jaringan dan pembengkakan tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan racun sarafnya.

Bisa  kobra jawa  yang murni berwarna bening, seperti minyak kelapa, dan kekentalannya pun kira-kira seperti itu. Makin tinggi tingkat kekentalannya  makin kuat daya kerja bisa ular tersebut. Sebaliknya makin keruh dan encer bisa ular kobra makin lemah daya kerjanya. Dalam cairan bisa yang kental dan bernilai isotonik tinggi ter

dapat lebih lengkap protein-protein yang menyokongnya dan kadarnya pun lebih tinggi. Bisa adalah kumpulan protein-protein yang membentuk protein beracun dan enzim.

Karena bisa terdiri atas enzim atau mengandung unsur protein, maka baunya seperti bau putih telur ayam, amis. Bisa yang terkena kulit tidak berbahaya kecuali pada permukaan kulit yang halus agak sedikit gatal.

Bisa yang terkena mata akan lebih menyakitkan lagi. Berdasarkan penelitian dengan menggunakan hewan percobaan, bisa yang terkena mata dapat mengakibatkan kebutaan sementara. Pada kelinci dan kucing kebutaan terjadi beberapa menit setelah terkena bisa. Kebutaan yang diakibatkan berkisar antara 1—2 jam.

Bisa yang kena pertama-tama mengakibatkan kelopak mata bagian dalam membengkak, merah, dan mengeluarkan belek. Hewan-hewan percobaan tampak tidak tenang, semua kelihatan gelisah dan panik. Kebutaan sementara disertai dengan demam tubuh.

Bisa yang kena mata dapat merusak mata bila tidak dirawat dengan baik, bahkan dapat menyebabkan luka kronis. Mata yang terkena bisa  dapat dicuci dengan air bersih sebanyak-banyaknya agar bisa dapat lebih cepat dikeluarkan bersama air mata dan lebih baik dicuci dengan air yang mengalir.

kobra jawa

ular kobra jawa

Umumnya orang dewasa rata-rata akan mati bila kemasukan bisa ular kobra sebanyak 12 mg. Ular kobra yang besar dan dewasa dalam sekali mematuk dapat mengeluarkan bisa lebih dari 200 mg. Jadi, ular kobra mampu membunuh 16 orang dalam sekali mematuk. Bila dilihat perbandingan ini, alangkah berbahayanya bisa ular kobra! Karena kenyataan inilah ular kobra termasuk ular yang sangat berbahaya bagi manusia. Tetapi di alam, ular ini

jarang mematuk dengan dosis bisa besar malah sering mematuk dengan tanpa mengeluarkan banyak bisa. Lain halnya jika ular kobra dipermainkan diprovokasi dan disakiti, maka jika mematuk dosis bisanya umumnya besar. Kematian umumnya terjadi pada orang-orang yang memelihara dan mempermainkan ular kobra di rumahnya.

Akibat patukan. Menurut Deoras (1996), pada tahun 1953 di India banyak terjadi kasus kematian akibat patukan ular berbisa, yaitu sampai 15.000 orang per tahun. Kebanyakan korban meninggal  akibat patukan ular kobra.

kobra jawa (Naja sputatrix)- bagian lehernya bersih tak bermotif

ular kobra jawa (Naja sputatrix)- bagian lehernya bersih tak bermotif

Sebenarnya rasa sakit akibat terpatuk ular kobra tidak begitu hebat, hanya seperti tersengat lebah dan tidak diikuti oleh rasa sakit yang berkepanjangan. Tetapi setelah 10 menit atau lebih, mulai terasa gatal dan terjadi pembengkakan sedikit pada lokasi patukan. Makin banyak bisa yang masuk, gejalanya makin cepat. Setelah itu, mulai terasa agak tebal dan terasa sedikit nyeri dan makin lama makin parah. Luka pada lokasi patukan menjadi kebiru-biruan. Anggota badan yang terpatuk mulai mengalami kelumpuhan dan lokasi bekas patukan makin membesar serta melebar dan terlihat bengkak serta mengandung air kelenjar limfa. Melepuh!

Denyut jantung mulai cepat dan muka memerah, badan terasa demam begitu juga pernapasan menjadi cepat, tenggorokan terasa kering, dan keluar air liur dari mulut. Lidah terjulur keluar. Pada saat ini kepala terasa pening, badan menjadi demam, dan bernapas semakin sulit. Korban mati karena kesulitan bernapas dengan hancurnya saraf-saraf pusat pernapasan. Tidak jarang juga terjadi muntah-muntah sebelum meninggal.

Pada manusia kematian akibat terpatuk ular kobra tergantung pada banyaknya bisa yang masuk ke dalam tubuh serta cepatnya bisa menyebar. Data yang terdapat dalam buku “Venomous Animals and Their Venoms”  hal 627 dari Bucherl (1971) menyebutkan bahwa proses itu berlangsung dari ¼ sampai 1 jam. Golden period dalam terpatuk ular adalah 7 jam, artinya korban akan selamat jika tidak mati dalam waktu kurang dari 7 jam. Pemberian antibisa monovalent umumnya sangat manjur. Sebaiknya setiap ada yang terpatuk ular sebaiknya segera di bawa ke dokter untuk mendapatkan suntikan serum antibisa ular. Luka terpatuk sebaiknya dibalut dengan kain sebanyak mungkin agar bisa dihambat untuk menyebar dan sementara itu usahakan ke dokter.

ular kobra jawa (Naja sputatrix), dari bali

ular kobra jawa (Naja sputatrix), dari Bali

Manfaat ular kobra. Sampai saat ini ular kobra banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai barang komoditi. Daging dibuat sop, sate atau abon, darah dimanfaatkan untuk obat tradisional dan kulit dimanfaatkan sebagai bahan pembuat tas, dompet, ikat pinggang dan sepatu. Ular kobra semakin lama semakin banyak dieksploitasi secara besar-besaran padahal fungsinya di alam sangat penting. Ekosistem sawah dan ladang akan rusak tanpa kehadiran ular-ular kobra. Kearifan untuk menjaga keseimbangan ekologi sawah harus diperhatikan juga kalau  tidak  jangan heran jika timbul hama-hama pertanian yang semakin banyak dan luas yang akibatnya sangat merugikan petani dan pekebun.

Bisa ular kobra memiliki banyak enzim-enzim dan racun. Enzim-enzim ini dikemudian hari dapat dipisahkan  dari racunnya sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengobati bermacam-macam penyakit yang diderita oleh manusia.

 

Klasifikasi ilmiah

Kingdom Animalia
Fillum Chordata (hewan bertulang belakang)
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia (hewan melata)
Bangsa Squamata (hewan bersisik)
Anak bangsa Serpentes (ular)
Suku Elapidae (suku kobra-kobraan)
Marga Naja (ular kobra)
Jenis kobra jawa (Naja sputatrix, BOIE, 1827)
Anak jenis -
Nama lokal ular kobra, ular kobra jawa, ular hitam, ular dumung,ular biludak, ular tedung, ular babi, ular bedul, ular sendok, ular irus
Nama Inggris Javan spitting cobra, spitting black cobra

 

Daftar pustaka

Bellaris dan Carrington, 1966, The World of Reptiles, London: Chatto and Windus Ltd.

Berhard, Sidney, 1968, The Structure and Function of Enzymes, New York: Benjamin Co.

Bucherl, W dan Buckley, Eleanor E. 1968. Venomous Animals and Their Venoms, New York: Academic Press, vol. 1.

—-     , 1968, Venomous Animals and Their Venoms, New York: Academic Press, vol. II/III.

Brongerma, L.D., 1958, Note on Daboia russelii (Shaw), Laiden: Zoologische Mededeling, deel 36, No. 4.

De Haas, C.P.J., 1950, Checklist of the Snakes of Indo-Australia Archipelago, Bogor: Archipel Drukkerij, dari Treubia, vol.3, No. 3, p. 511-625.

Fowler, Murray E., 1979, Restrain and Handeling of Wild and Domestic Animals, Iowa State University Press.

Lim Leong Keng, Francis, 1991,  Tales and Scales, Singapure: Graham Bush Pte Ltd.

Goin and Goin, 1970, Introduction to Herpetology, San Fransisco: W.H. Freemen and Company.

Gow, Graem F., 1982, Australia Dangerous Snake, Australia: Angus & Robertson Publisher.

Heyne, K, 1978, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.

Kawamura, Chinzei dan Sawai, 1975, Snakebites in Indonesia dari The Snake, vol. 7, p. 73-78.

Kopstein, F., 1932, Bungarus javanicus, eine neue Giftschlange von Java (Herpetologische Notizen), Treubia, vol. 14, p. 73-77.

Laporan, 1981, dari International Seminar on Epidemiology and Medical Treatment of Snake-bites, dalam The Snake, vol. 13, p. 63-67.

Lim Bo Liat, 1981, Ular-Ular Berbisa di Semenanjung Malaysia, Kuala Lumpur: Art Printing Works.

Neuhaus, H., 1935, Daboia russelii limitis (Merten) dalam Treubia, vol. 15.

Phelps, Tony 1981, Poisonous Snake, London: Blandfort Press Ltd.

Rogercaras, 1974, Venomous Animals of the World, USA: Prentice – Hall International Inc.

Shine, Richard, 1991, Australian Snakes a Natural history, Sydney, Australia: Reed Books Pty Ltd.

Storer dan Usinger, 1981, Elements of Zoology, New York: Mc-Graw-hill Book Company, Inc.

Suhono, Budhy, 1984, Mengenal Ular Berbisa, Jakarta: Berita Buana, 20 Agustus.

—  , 1985, Menenggang Ular Berbisa, Jakarta: Majalah Zaman No. 19/VI/2 February.

—  , 1985, Mengidentifikasi Ular Berbisa, Jakarta: Berita Buana, 13 Juni.

—  , 1985, Memberantas Hama Tikus secara Kontrol Biologi, Jakarta: Berita Buana, 6 September.

—  , 1986, Ular Tanpa Bisa Tidak Berarti Apa-Apa, Jakarta: Majalah Warnasari, No. 84/ VII.

—  , 1986, Ularmu, Bung, Jakarta: Majalah Aku Tahu No.36/III Februari.

Storr dan L.A. Smith, serta R.E. Johnstone, G.M., 1986, Snakes Of Western Australia, Perth, Australia: The Western Australian Museum.

Supriatna, Jatna, 1981, Ular Berbisa Indonesia, Jakarta: Bhatara Karya Aksara.

Tweedie, M.W. F., 1954, The Snakes of Malaya, Singapore: Government Printing.

Van Hoesel, J. K. P., 1959, Ophidia Javanica, Bogor: Percetakan Archipel.

Wall, Capt. F. I. M. S., 1902, Aids to the Differentiation of Snake, Bombay: Journal Bombay Natural History Society, vol. 14, p. 337.

Wolf dan Eberhard Engelmann, 1981, Snake, Biolog, Behavior and Relationship to Man, Fritz: Jurgen Obst.

Young, Genevieve G., 1961, Wilton’s Microbiology, New York: Mc-Graw-Hill Book Company, Inc.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>