Don't miss

Ular Tanah

By on January 4, 2013
ular tanah (Calloselasma rhodostoma), siap menyerang.

ular tanah (Calloselasma rhodostoma), siap menyerang.

Ular tanah atau sering  juga disebut ular gibuk merupakan ular yang termasuk  suku Viperidae dari anak suku Crotalinae.  Jenis ini bernama ilmiah Calloselasma rhodostoma    (GUNTHER  1864)  yang  dalam literatur lama nama ilmiahnya tertulis Agkistrodon rhodostoma (BOIE). Perubahan nama ilmiah ini disebabkan adanya struktur termosensor yang berbeda pada jenis ini bila dibandinglan  dengan bentuk termosensor dari jenis-jenis ular dalam marga Agkistrodon lainnya. Berdasarkan hasil penelitian terakhir inilah, maka  ular tanah dikeluarkan dari marga Agkistrodon dan dibuatkan marga baru, yaitu Calloselasma. Marga Calloselasma hanya memiliki satu jenis ular saja, yaitu ular tanah (Calloselasma rhodostoma).

Penamaan ilmiah. Epithet nama ilmiahnya adalah rhodostoma yang berarti, rhodos bermakma merah dan stoma berarti badan atau tubuh. Secara harfiah adalah ular yang badannya berwarna merah.

Penamaan. Masyarakat Indonesia tergantung daerahnya menyebut ular ini dengan beberapa nama seperti: ular tanah (Melayu); ular bandotan bedor (Jawa); ular cabak (Cirebon);  ular ador (Kepulauan Karimun Jawa); ular taneh, ular gibuk, ular gibuk taneh (Sunda). Orang Inggris menyebutnya dengan Malayan pit  viper.

Penyebaran. Ular tanah terdapat di Jawa, Sumatra, dan Asia Kontinental.

Mitos. Ular tanah memiliki banyak sekali mitosnya di Indonesia, sepertinya tidak ada mitos tentang ular yang begitu bervariasi kecuali diberikan kepada  jenis ular ini. Hal ini disebabkan  karena akibat patukan dari jenis ular ini, sering mengakibatkan kematian.  Padahal kalau sengaja mencari jenis ular ini untuk penelitian sangat sukar menemukannya.

Morfologi. Kepalanya berbentuk segitiga, moncong lancip sehingga mudah dibedakan dari leher. Di atas kepala terdapat lukisan wajid, berwarna kecoklat-cokelatan. Ujung gambar ini berada di belakang parietal (post parietal). Beberapa sisik di atas kepala sedikit lebih besar daripada sisik lainnya, jadi berbeda dengan ular lain dari suku Viperidae yang umumnya memiliki sisik-sisik kecil di kepala.

Supralabials dan infralabials berjumlah 7 buah, berukuran besar dan berwarna pucat. Antara hidung dan mata terdapat lubang (pit) di daerah loreal. Terdapat coreng putih dari anterior nasal, internasal, supraocular, terus ke post temporal. Coreng ini khas pada ular tanah. Secara gampang, cirinya adalah coreng putih dan cokelat yang berpusat di tepian kepala yang berbentuk segitiga itu.

ular-tanah-Calloselasma-rhodostoma-sedang-berjalan..jpg

ular tanah  ( Calloselasma  rhodostoma)  sedang berjalan

Taring bisa besar dan panjang, berbentuk melengkung ke depan dan dapat dilipat sejajar dengan tulang maksila (rahang). Taring bisa berliang (solenoglifa). Dalam posisi biasa, taring dilipat ke belakang dan baru berdiri jika taring ini digunakan untuk mematuk.

Mata berwarna perak dengan anak mata hitam berupa celah vertikal. Hal ini mengesankan bahwa ular tanah ini jahat dan berbahaya.

Badan gemuk dan pendek. Garis sepanjang punggung membentuk sudut tajam. Pada sisi lateral terdapat lukisan berbentuk segitiga yang berderet-deret sepanjang tubuh. Lukisan segitiga itu berwarna hitam dan warna di sekitarnya cokelat muda atau cokelat kemerah-merahan. Pada umumnya ular tanah muda memiliki lukisan lebih indah dan jelas. Ventral berwarna putih kotor dengan bintik-bintik cokelat muda yang bergerombol dan tersebar di sepanjang ventral (perut). Ventral berjumlah 148—166, anal tunggal, dan subcaudal 35—52 serta berpasangan. Jumlah sisik dorsal 20—21 baris. Ekor meruncing. Pada ujung ekor yang jantan terdapat sisik agak memanjang seperti tanduk.

Panjang maksimum ular tanah sampai 1 m. Ukuran yang  umum ditemui kurang dari 1m, antara 50—70 cm.

Perilaku. Ular tanah banyak bersembunyi dan bersarang di celah-celah kayu kering yang tertutup oleh serasah (sampah daun kering). Di daerah hutan di sekitar Bogor ular tanah sering bersembunyi di rumpun pohon salak, nenas, atau di bawah pohon bambu yang di bawahnya terdapat banyak sampah daun kering.

Kalau diusik, ular tanah tidak lari tetapi tetap diam sambil melingkarkan tubuh dan mendongakkan kepala, siap mematuk. Sebelum mematuk, ular tanah menggetarkan ekor keras-keras, sejurus kemudian baru ia mematuk. Kadang-kadang patukan ular tanah begitu cepat dan menakjubkan. Ular ini mematuk sambil melontarkan setengah badannya, seolah-olah meloncat.

Ular jantan menggetarkan ujung ekor lebih keras daripada yang betina. Ujung ekor ular jantan seolah-olah bersengat. Hal ini sebenarnya hanya suatu modifikasi dari sisik ekor. Hal ini berguna untuk menarik pasangannya dan menipu perhatian mangsa.

Warna kecokelat-cokelatan tubuhnya sangat baik untuk menyamarkan tubuhnya dari bahaya, terutama bila ia berada pada lingkungan daun-daun kering. Bahkan ular tanah pun dapat memipihkan tubuh, menjadi tipis bila merasa terganggu atau sedang bersikap waspada. Tingkah laku begini sering kali mengecoh orang. Orang yang tidak berjalan hati-hati dapat saja menginjak ular tanah. Ular yang terpijak tentu saja akan mematuk. Tetapi pada umumnya ular tanah menggetarkan ekor keras-keras sebelum mematuk. Suara ini terdengar dari kejauhan sekitar 2 m. Orang yang waspada akan mengenal suara getaran ekor ular tanah ini.

anak ular tanah yang baru menetas, ujung ekornya berwarna kuning

anak ular tanah yang baru menetas, ujung ekornya berwarna kuning

Ular tanah memiliki bau tubuh yang khas, yaitu bau seperti kecoa, bau apek atau langu.

Ular tanah sangat terkenal di daerah Banten dan Bogor. Di daerah ini banyak korban patukan ular tanah. Korban patukan ular tanah mengalami kerusakan sel-sel darah.

Di alam bebas, ular tanah takut kepada manusia dan berusaha lari bila bertemu dengan manusia kecuali ular yang sedang hamil atau sakit. Ular seperti ini biasanya lambat menghindar.

Menurut pengamatan, ular tanah yang sedang kawin, bunting, atau sakit (biasanya infeksi mulut), kurang tanggap pada kehadiran manusia di dekatnya. Ular-ular tanah seperti ini sering kali meminta korban. Oleh karena itu, pakailah sepatu bila berjalan kaki pada malam hari di  daerah yang bersemak-semak, terutama di daerah Banten dan Bogor.

Ular tanah sukar dijinakkan. Keinginannya untuk mematuk tidak pernah hilang Hal ini dikarenakan oleh  adanya organ termosensornya yang dapat membantunya mengetahui makhluk berdarah panas di dekatnya. Berlainan dengan ular lainnya dari suku Viperidae, yang pada umumnya melahirkan anak, ular tanah bertelur. Jumlah telur rata-rata 25 butir. Telur-telur berlekatan satu sama lainnya sehingga membentuk lingkaran. Ular tanah menunggui telur hingga menetas.

Ular tanah keluar pada malam hari untuk mencari mangsa. Dengan bantuan lubang termosensor (pit) di antara hidung dan mata, ular tanah dapat dengan mudah mengetahui adanya mangsa yang berdarah panas, walau di malam pekat dan dingin. Ular tanah memangsa mamalia kecil, kadal, katak, dan burung.

Ular tanah  (Calloselasma rhodostoma) yang besar seperti ini amat berbahaya

Ular tanah (Calloselasma rhodostoma) yang besar seperti ini amat berbahaya

Venom/Bisa. Bisa ular tanah bersifat hemotoksin, berwarna kuning dan berbau tidak enak, seperti bau amoniak. Dosis letal ular tanah bagi manusia adalah 40 mg. Sehingga apabila manusia terpatuk ular tanah dengan dosis kurang dari 40 mg, maka tidak akan mati.   Korban patukan ular tanah biasanya mengalami pembengkakan di sekitar luka patukan dan terdapat jaringan yang rusak dan melepuh (gangreng) serta jaringan di bawah kulit di sekitar patukan menjadi kebiruan setelah beberapa hari. Korban yang terpatuk dengan dosis

di bawah lethal dosis tidak akan mati hanya mengalami kerusakan jaringan di sekitar luka patukan yang cukup parah. Korban yang terpatuk dengan dosis lethal bisanya mati dalam beberapa hari. Korban patukan dengan dosis lethal (dosis mematikan) biasanya ditandai dengan adanya sputum yang sudah bercampur darah. Pemberian serum antibisa ular umumnya dapat menyembuhkan akibat patukan ular ini.

Di daerah seperti, Kecamatan Parung Panjang, Kecamatan Bayah, dan Kecamatan Cikotok korban umumnya tidak mendapatkan perawatan yang memadai. Korban yang meninggalpun umumnya tidak tercatat. Rasanya sudah waktunya pihak-pihak terkait menyiapkan serum antibisa ular tanah yang memadai di tempat-tempat yang tinggi angka kematian akibat patukan ular tanah ini, supaya tidak ada lagi kematian yang sia-sia akibat patukan ular tanah. Puskesmas di daerah endemik diharuskan menyediakan serum antibisa ular terutama antibisa ular tanah yang monovalent.

Korban patukan ular tanah di tangan

Korban patukan ular tanah di tangan

Manfaat bisa ular tanah. Pengobatan modern ada yang menggunakan bisa ular. Bisa ular tanah diketahui memiliki enzim yang bersifat hemolitik, yaitu enzim yang bekerja menghancurkan butir-butir darah atau menghancurkan pembekuan darah. Melalui cara modern, enzim ini diambil dari bisa ular tanah, kemudian dipisahkan dan dipergunakan untuk mengobati penyakit menggumpalnya pembuluh darah, atau penyumbatan pembuluh darah (arteriosklerosis). Obat dari bisa ular tanah ini dinamakan ARVIN,  dan dibuat oleh  Jerman Barat. Di masa depan bisa ular tanah dapat diteliti lebih mendalam  untuk mendapatkan enzim-enzim baru yang berfungsi sebagai obat penyakit-penyakit di dalam darah.

Korban patukan ular tanah mengalami pembengkakan dan melepuh  pada daerah bekas terpatuk ular

Korban patukan ular tanah mengalami pembengkakan dan melepuh pada daerah bekas terpatuk ular

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan Animalia
Filum Chordata
Subfilum Vertebrata
Kelas Reptilia
Bangsa Squamata
Anak bangsa Sepentes (Ophidia)
Suku Viperidae
Marga Calloselasma
Jenis ular tanah (Calloselasma rhodostoma GUNTHER 1864)
Nama lokal ular tanah (Melayu); ular bandotan bedor (Jawa); ular cabak (Cirebon); ular ador (Kepulauan Karimun Jawa); ular taneh, ular gibuk (Sunda).
Nama Inggris Malayan pit viper

Sinonim:

Agkistrodon rhodostoma (BOIE  1827)

Trigonocephalus  rhodostoma (BOIE 1827)

Leiolepis rhosdostoma (DUMERIL & BIDRON 1854)

Tisiphone rodostoma (PETERS 1862)

Ancistrodon rhodostoma (BOTTGER 1892)

Ancystrodon rhodostoma (NAINGGOLAN 1929)

Agkistrodon rhodostona ( DE ROOIJ)

Referensi: Suhono, Budi: Ular berbisa di Indonesia: Jakarta, Sanggar Natural.

Note: kritik membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan naskah

Daftar Pustaka

Bellaris dan Carrington, 1966, The World of Reptiles, London: Chatto and Windus Ltd.

Berhard, Sidney, 1968, The Structure and Function of Enzymes, New York: Benjamin Co.

Bucherl, W dan Buckley, Eleanor E. 1968. Venomous Animals and Their Venoms, New York: Academic Press, vol. 1.

—  1968, Venomous Animals and Their Venoms, New York: Academic Press, vol. II/III.

Brongerma, L.D., 1958, Note on Vipera Russellii (Shaw), Laiden: Zoologische Mededeling, deel 36, No. 4.

De Haas, C.P.J., 1950, Checklist of the Snakes of Indo-Australia Archipelago, Bogor: Archipel Drukkerij, dari Treubia, vol.3, No. 3, p. 511-625.

Fowler, Murray E., 1979, Restrain and Handeling of Wild and Domestic Animals, Iowa State University Press.

Lim Leong Keng, Francis, 1991,  Tales and Scales, Singapure: Graham Bush Pte Ltd.

Goin and Goin, 1970, Introduction to Herpetology, San Fransisco: W.H. Freemen and Company.

Gow, Graem F., 1982, Australia Dangerous Snake, Australia: Angus & Robertson Publisher.

Heyne, K, 1978, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.

Kawamura, Chinzei dan Sawai, 1975, Snakebites in Indonesia dari The Snake, vol. 7, p. 73-78.

Kopstein, F., 1932, Bungarus javanicus, eine neue Giftschlange von Java (Herpetologische Notizen), Treubia, vol. 14, p. 73-77.

Laporan, 1981, dari International Seminar on Epidemiology and Medical Treatment of Snake-bites, dalam The Snake, vol. 13, p. 63-67.

Lim Bo Liat, 1981, Ular-Ular Berbisa di Semenanjung Malaysia, Kuala Lumpur: Art Printing Works.

Neuhaus, H., 1935, Vipera russellii limitis (Merten) dalam Treubia, vol. 15.

Phelps, Tony 1981, Poisonous Snake, London: Blandfort Press Ltd.

Rogercaras, 1974, Venomous Animals of the World, USA: Prentice – Hall International Inc.

Shine, Richard, 1991, Australian Snakes a Natural history, Sydney, Australia: Reed Books Pty Ltd.

Storer dan Usinger, 1981, Elements of Zoology, New York: Mc-Graw-hill Book Company, Inc.

Suhono, Budhy, 1984, Mengenal Ular Berbisa, Jakarta: Berita Buana, 20 Agustus.

— 1985, Menenggang Ular Berbisa, Jakarta: Majalah Zaman No. 19/VI/2 February.

— 1985, Mengidentifikasi Ular Berbisa, Jakarta: Berita Buana, 13 Juni.

— 1985,  Memberantas Hama Tikus secara Kontrol Biologi, Jakarta: Berita Buana, 6 September.

— 1986, Ular Tanpa Bisa Tidak Berarti Apa-Apa, Jakarta: Majalah Warnasari, No. 84/ VII.

— 1986, Ularmu, Bung, Jakarta: Majalah Aku Tahu No. 36/III Februari.

Storr dan L.A. Smith, serta R.E. Johnstone, G.M., 1986, Snakes Of Western Australia, Perth, Australia: The Western Australian Museum.

Supriatna, Jatna, 1981, Ular Berbisa Indonesia, Jakarta: Bhatara Karya Aksara.

Tweedie, M.W. F., 1954, The Snakes of Malaya, Singapore: Government Printing.

Van Hoesel, J. K. P., 1959, Ophidia Javanica, Bogor: Percetakan Archipel.

Wall, Capt. F. I. M. S., 1902, Aids to the Differentiation of Snake, Bombay: Journal Bombay Natural History Society, vol. 14, p. 337.

Wolf dan Eberhard Engelmann, 1981, Snake, Biolog, Behavior and Relationship to Man, Fritz: Jurgen Obst.

Young, Genevieve G., 1961, Wilton’s Microbiology, New York: Mc-Graw-Hill Book Company, Inc.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>