Don't miss

Viper Russell

By on December 30, 2012

Ular ini termasuk suku Viperidae dari anak suku Viperinae Jenisnya bernama ilmiah Vipera russellii (Kopstein 1936) pada literatur lama tetapi  sekarang nama ilmiahnya diubah menjadi Daboia russellii (Shaw & Nodder 1797). Perubahan ini disebabkan ditemukannya perbedaan yang jelas pada sisik kepala dan lubang termosensornya sehingga jenis ini digolongkan ke dalam marga tersendiri, yaitu Daboia. Etimologi nama Latinnya berasal dari kata vipera  yang berarti ular viper atau ular bertaring panjang. Sedangkan russellii  berarti miliknya atau kepuyaan Russell. Ular ini pertama kali diidentifikasi oleh seorang peneliti yang bernama Russell. Masyarakat Indonesia menyebutnya sebagai ular bandotan puspa.

Pak Boeadi dan Budi Suhono sedang mengambil  bisa ular viper russell

Pak Boeadi (LIPI)  dan Budi Suhono mengambil bisa dari viper russell

Pak Boeadi sedang bekerja sama dengan Budi Suhono  untuk mengambil bisa ular viper russell-02

Pengambilan bisa dari  viper russell harus hati-hati, salah sedikit menjadi bahaya

Jenis ini merupakan ular viper sejati yang benar-benar memiliki taring dan lubang sensor panas yang bulat pada kepalanya. Perbedaan bentuk dari sensor panas di kepala merupakan ciri dari berjenis-jenis ular viper secara morfologi. Perbedaan bentuk lubangnya merupakan pembeda dari satu  jenis ular  dengan ke jenis  ular viper  lainnya.

Penyebaran ular berbisa ini di Indonesia meliputi Jawa, Pulau Komodo dan Pulau Flores. Jenis ini seringkali ditemukan pada habitat yang kering dan gersang. Di Luar Indonesia jenis ini ditemukan di Srilanka, dan India.

Penamaan

Secara awam, masyarakat menamakan ular viper russell  sebagai ular bandotan puspo (Jawa). Orang Melayu menamakannya sebagai ular bandotan puspa. Ular viper sejati ini dapat mengeluarkan suara keras seperti ban mobil yang dikempeskan.

Morfologi

Kepalanya berbentuk segitiga, pada yang betina lebih menyegitiga lagi serta lebih tebal. Sisik kepala kecil-kecil. Di atas kepala terdapat tiga buah gambaran berbentuk oval, sebuah di antara mata dan dua lainnya pada kepala bagian belakang. Matanya kelabu, anak mata cokelat tua berupa celah vertikal. Mata demikian memberi kesan bahwa ular ini menyeramkan. Taring bisa besar, panjang, dan berliang (solenoglifa), serta dapat ditekuk sampai ke belakang, sejajar dengan rahang atas.

ular viper russell dari Komodo, siap menyerang penggangunya

ular viper russell dari Komodo (Daboia russellii limitis), siap menyerang penggangunya

Badannya gemuk dan pendek. Sisik dorsal berlunas, ekor meruncing. Warna dasar dorsal cokelat muda/kuning kehijau-hijauan dengan gambaran bundar cokelat tua dengan tepi agak hitam yang berderet di sepanjang tubuh. Terdapat tiga deret bundaran pada dorsal. Bundaran besar terdapat di deretan tengah dan yang lebih kecil pada kedua sisi tubuh (lateral). Corak gambaran pada ular jantan lebih oval daripada yang betina. Ular jantan lebih ramping daripada betina (Kopstein, 1926 , Van Hoesel, 1958).

Sisik ventral berwarna putih keabu-abuan dengan bercak-bercak hitam berbentuk setengah lingkaran. Sisik ventral 156—162, anal tunggal, subcaudal 45—50, dan jumlah sisik dorsal 27—29 baris.

Ukuran yang terpanjang yang pernah ditemukan oleh Neuhaus pada tahun 1935 di Jawa adalah 1,11 m.

Perilaku

Ular bandotan puspa bertemperamen tinggi, diam-diam galak. Kalau terinjak ia langsung mematuk tanpa ragu-ragu.

Menurut Van Hoesel, ular bandotan puspa adalah ular berbisa yang paling keras suara desisnya di Asia Tenggara. Desis ular ini dapat terdengar sampai 15 m, ia berdesis seperti ban mobil dikempiskan.

Ular ini senang tinggal di tempat yang berhawa panas, di padang rumput (sabana dan stepa) dan di pegunungan kapur. Di Pulau Jawa ular bandotan puspa dapat ditemukan di sekitar kotaSurabaya. Ular ini sulit dijumpai karena warnanya serasi dan sama dengan habitatnya, juga karena keluar pada malam hari. Ular bandotan puspa bersembunyi di lubang-lubang batu atau pada semak-semak di lapangan rumput.

Vipera russellii

ular viper russell dari Pulau Komodo (Daboia russellii limitis)

Jika diganggu, ia melingkarkan tubuh, menopang kepala pada gelung badan sambil membentuk huruf S, dan mendesis keras siap menyerang. Ular ini mematuk tanpa ragu-ragu. Sangat berbahaya kalau kita berada di daerah jangkauan patukannya. Setiap ular mempunyai jarak jangkauan patukan tertentu. Makin besar dan makin liar seekor ular, jarak jangkau patukannya makin luas.

Ular bandotan puspa melahirkan anak sebanyak 20—60 ekor. Ia keluar pada malam hari memburu mangsa berupa mamalia kecil, burung, dan katak. Ia juga kanibal menurut Brongerma (1958).

ular viper russell dari Surabaya, Jawa Timur (Foto Rusmaji)

ular viper russell (Daboia russellii sublimitis) dari Surabaya, Jawa Timur (Foto Rusmaji)

Venom/bisa

Bisa ular bandotan puspa bersifat hemotoksin dan sangat kuat serta berbahaya bagi manusia. Korban patukan banyak terjadi di Pulau Flores. Di Jawa sangat jarang terjadi korban patukan karena jenis ular ini hanya terdapat di daerah Surabaya yang kering di daerah pegunungan yang sangat jarang penduduknya. Saat ini habitat dari ular jenis ini di Jawa sangat terbatas sekali (hanya di Jawa Timur,  sekitar kota Surabaya).

Perhatian

Bagi masyarakat awam, tampilan warna kulitnya sangat menyerupai ular sanca batu (Python molurus) sehingga kerapkali orang awam salah mengindentifikasinya.

Klasifikasi ilmiah 

Kerajaan            : Animalia
Filum                 : Chordata
Subfilum            : Vertebrata
Kelas                 : Reptilia
Bangsa              : Squamata
Anak bangsa      : Sepentes (Ophidia)
Suku                 : Viperidae
Marga               : Daboia
Jenis                 : ular viper russell  (Daboia russellii  (Shaw & Nodder 1797))
Anak jenis - ular viper  russell  jawa (Daboia  russellii sublimitis)
- ular vipera russell komodo (Daboia russellii limitis))
Nama lokal         : ular bandotan puspo (Jawa); ular bandotan puspa (Melayu)
Nama Inggris     : Russell’s viper

Sinonim : 

Vipera  russellii  KOPSTEIN 1936

Referensi

  1. Suhono, Budi : Ular Berbisa di Indonesia. Jakarta : Sanggar Natural

Daftar Pustaka

Bellaris dan Carrington, 1966, The World of Reptiles, London: Chatto and Windus Ltd.

Berhard, Sidney, 1968, The Structure and Function of Enzymes, New York: Benjamin Co.

Bucherl, W dan Buckley, Eleanor E. 1968. Venomous Animals and Their Venoms, New York: Academic Press, vol. 1.

, 1968, Venomous Animals and Their Venoms, New York: Academic Press, vol. II/III.

Brongerma, L.D., 1958, Note on Vipera Russellii (Shaw), Laiden: Zoologische Mededeling, deel 36, No. 4.

De Haas, C.P.J., 1950, Checklist of the Snakes of Indo-Australia Archipelago, Bogor: Archipel Drukkerij, dari Treubia, vol.3, No. 3, p. 511-625.

Fowler, Murray E., 1979, Restrain and Handeling of Wild and Domestic Animals, Iowa State University Press.

Lim Leong Keng, Francis, 1991,  Tales and Scales, Singapure: Graham Bush Pte Ltd.

Goin and Goin, 1970, Introduction to Herpetology, San Fransisco: W.H. Freemen and Company.

Gow, Graem F., 1982, Australia Dangerous Snake, Australia: Angus & Robertson Publisher.

Heyne, K, 1978, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.

Kawamura, Chinzei dan Sawai, 1975, Snakebites in Indonesia dari The Snake, vol. 7, p. 73-78.

Kopstein, F., 1932, Bungarus javanicus, eine neue Giftschlange von Java (Herpetologische Notizen), Treubia, vol. 14, p. 73-77.

Laporan, 1981, dari International Seminar on Epidemiology and Medical Treatment of Snake-bites, dalam The Snake, vol. 13, p. 63-67.

Lim Bo Liat, 1981, Ular-Ular Berbisa di Semenanjung Malaysia, Kuala Lumpur: Art Printing Works.

Neuhaus, H., 1935, Vipera russellii limitis (Merten) dalam Treubia, vol. 15.

Phelps, Tony 1981, Poisonous Snake, London: Blandfort Press Ltd.

Rogercaras, 1974, Venomous Animals of the World, USA: Prentice – Hall International Inc.

Shine, Richard, 1991, Australian Snakes a Natural history, Sydney, Australia: Reed Books Pty Ltd.

Storer dan Usinger, 1981, Elements of Zoology, New York: Mc-Graw-hill Book Company, Inc.

Suhono, Budhy, 1984, Mengenal Ular Berbisa, Jakarta: Berita Buana, 20 Agustus.

— 1985, Menenggang Ular Berbisa, Jakarta: Majalah Zaman No. 19/VI/2 February.

— 1985, Mengidentifikasi Ular Berbisa, Jakarta: Berita Buana, 13 Juni.

— 1985, Memberantas Hama Tikus secara Kontrol Biologi, Jakarta: Berita Buana, 6 September.

— 1986, Ular Tanpa Bisa Tidak Berarti Apa-Apa, Jakarta: Majalah Warnasari, No. 84/ VII.

— 1986, Ularmu, Bung, Jakarta: Majalah Aku Tahu No. 36/III Februari.

Storr dan L.A. Smith, serta R.E. Johnstone, G.M., 1986, Snakes Of Western Australia, Perth, Australia: The Western Australian Museum.

Supriatna, Jatna, 1981, Ular Berbisa Indonesia, Jakarta: Bhatara Karya Aksara.

Tweedie, M.W. F., 1954, The Snakes of Malaya, Singapore: Government Printing.

Van Hoesel, J. K. P., 1959, Ophidia Javanica, Bogor: Percetakan Archipel.

Wall, Capt. F. I. M. S., 1902, Aids to the Differentiation of Snake, Bombay: Journal Bombay Natural History Society, vol. 14, p. 337.

Wolf dan Eberhard Engelmann, 1981, Snake, Biolog, Behavior and Relationship to Man, Fritz: Jurgen Obst.

Young, Genevieve G., 1961, Wilton’s Microbiology, New York: Mc-Graw-Hill Book Company, Inc.

Note: kritik membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan naskah